Fakta Seputar Kejang Demam pada Anak yang Wajib Ibu ketahui!

Kejang Demam – Ketika anak sedang demam hal yang paling ditakuti para orang tua adalah kejang demam. Kejang demam bisa terjadi karena kontraksi otot yang berlebihan tanpa bisa dikendalikan akibat dari suhu anak yang terlalu tinggi.

Saat suhu anak mencapai 39 C atau lebih jika tidak segara ditangani akan terjadi kejang demam. namun anak yang memiliki toleransi rendah suhu 38 C juga bisa mengakibatkan kejang demam. Ketika anak mengalami kejang demam atau step biasanya akan kaku kelojotan, mata mendelik dan lidah tergigit hal itulah yang sangat ditakuti para orang tua.

Kejang demam pada anak

Kejang demam pada anak

Apa Sebenarnya Kejang Demam Itu?

Kejang demam merupakan kejang yang terjadi saat anak terserang demam. ketika suhu anak naik secara drastis akan terjadi kontraksi otot yang sulit dikendalikan. Hal ini terjadi tanpa ada perintah dari otak karena  prosesnya di luar otak.

Kejang demam biasanya terjadi pada anak di atas 6 bulan sampai 5 tahun. Kejang demam biasanya akan diawali dengan demam tinggi kemudian terjadilah kejang.

Apa Penyebab kejang Demam?

Biasanya kejang demam disebabkan demam tinggi yang terjadi secara mendadak atau tiba-tiba. Meski belum diketahui secara pasti penyebabnya namun dugaan adanya faktor genetik menjadi penyebab terbesar.

Kejang pada satu anak dengan anak lainnya memiliki batas temperatur yang berbeda-beda, ada yang kejang diangka 38 C ada juga yang kejang setelah suhu tubuhnya terlalu panas sekitar 39 derajat celcius atau lebih.

Itulah beberapa penyebab kejang demam, namun kejang juga bisa terjadi saat anak tidak demam. Lalu apa saja penyebabnya? Berikut ini diantaranya:

  • Kejang juga bisa terjadi karena terjadinya kelainan atau gangguan pada fungsi otak. Beberapa contoh kejang seperti trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, dan kekurangan oksigen dalam jaringan otak
  • Penyebab kejang berikutnya adalah gangguan elektrolit darah akibat gula darah rendah, kurang asupan makanan, diare, muntah, keracunan obat kimia, alergi, epilepsi, cacat bawaan, dan gangguan metabolisme.
  • Faktor genetik

Apa yang Terjadi Saat Anak Kejang

Sebagai orang tua anda harus mengetahui apa yang terjadi saat anak mengalami kejang demam agar tidak terlambat melakukan pertolongan pertama untuk mencegah terjadinya berbagai hal buruk seperti gangguan otak. Berikut ini ciri-ciri kejang demam:

  • Kaki dan tangan kaku
  • Mata melotot dan terbalik tapi terkadang berkedi-kedip
  • Kelojotan atau kejang – kejang
  • Gigi terkatup
  • Muntah
  • Titak memberikan respon
  • Ada juga yang berhenti bernapas sejenak
  • Umumnya kejang akan berhenti sendiri dalam 5 menit namun dalam kasus berat anak bisa hilang kesadaran dan berkeringat.
  • Setelah reda, anak akan mengantuk dan tertidur

Setiap anak memiliki gejala kejang yang berbeda-beda.  Gejala ringan biasanya ditunjukkan dengan menatap dengan melotot, sampai gejala berat seperti kelojotan sampai otot menjadi kaku dan kencang.  Durasi saat anak kejang demam juga bervariasi. Berikut kategori kejang demam menurut durasinya :

  • Kejang demam sederhana: biasanya kejang ini terjadi dalam beberapa detik maksimal 15 menit. kejang sederhana merupakan kejang yang paling umum terjadi. Kejang ini terjadi pada seluruh tubuh. Namun hal itu tidak akan terulang dalam 24 jam
  • Kejang demam kompleks: kejang ini biasanya akan berulang dalam 24 jam dan durasinya bisa lebih dari 15 menit pada beberapa bagian tubuh.

Kejang demam biasanya sangat jarang dialami saat bayi berusia di bawah 6 bulan. dan  umum terjadi saat bayi berusia 6 bulan sampai 5 tahun. Saat mengalami kejang demam biasanya bisa terulang kembali, terutama jika:

  • memiliki keturunan yang mempunyai riwayat kejang demam atau faktor genetik
  • sebelum anak berusia 1 tahun pernah mengalami kejang demam
  • kejang akan terulang jika anak kejang saat suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi
  • kejang dan demam jaraknya sangat singkat

Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Kejang?

Ketika anak anda mengalami kejang saat demam, sebaiknya hindari panik yang berlebihan lalu lakukan hal-hal berikut ini untuk mencegah terjadi hal buruk, seperti berikut ini:

  1. hindari panik yang berlebihan, langkah pertama longgarkan pakainnya untuk memberikan ruang gerak dan memberikan kenyamanan
  2. hindari anak bari benda-benda berbahaya seperti listrik dan perabotan rumah yang mudah pecah
  3. saat anak kejang keluarkan semua benda yang ada di dalam mulut anak untuk menghindari tersedak
  4. letakkan anak dalam posisi miring agar muntahannya bisa keluar dan tidak tertelan
  5. buang kebiasaan buruk seperti memasukkan sendok, kayu, jari hal itu akan menyebabkan sumbatan pada jalan napas
  6. letakkan anak di karpet atau lantau yang jauh dari benda tajam serta jangan tahan tubuh anak saat kejang, hal itu akan mengakibatkan patah tulang
  7. perhatikan lama waktu kejang
  8. segera beri pertolongan medis dengan membawa anak ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk mencegah kerusakan otak yang kekurangan oksigen

Cara Mencegah Kejang Demam

Saat anak demam sebaiknya lakukan pertolongan agar tidak terjadi kejang. Lalu bagaimana cara mencegah kejang demam? Simak berikut ini:

  1. sediakan termometer di rumah untuk mengukur suhu anak
  2. saat anak demam kompres menggunakan handuk hangat dibagian dahi, ketiak dan paha
  3. mandikan dengan air hangat atau anda bisa mengelap tubuh anak menggunakan handuk hangat
  4. beri minum ASI dan air putih yang banyak
  5. hindari menggunaan baju dan selimut tebal
  6. beri obat penurun panas seperti parasetamol dan ibuprofen
  7. selalu sediakan obat penurun panas
  8. jika suhu tubuh anak belum juga turun setelah melakukan berbagai cara tersebut sebaiknya bawa anak ke dokter.

Jangan lewatkan juga: Tipes Pada Anak: Penyebab, Gejala dan Cara Mengobati dengan Tepat

Apakah kejang dapat berakibat bodoh dan epilepsi?

Kejang yang terjadi secara umum atau kejang demam sederhana tidak berakibat pada daya tangkap otak atau kecerdasan otak. Setelah anak berusia 5 sampai 6 tahun masalah kejang demam akan hilang dengan sendirinya, dan akan tumbuh normal seperti anak lainnya. Kejang demam ini juga tidak perlu penanganan khusus seperti rekam otak dan scan.

Untuk kasus kejang demam berat yang lambat mendapatkan pertolongan dan terjadi dalam waktu yang cukup lama dan tidak sadarkan diri pada waktu yang lama akan terjadi retardasi mental yang disebabkan  kerusakan pada sel-sel otak.

Sebaiknya lakukan penanganan secepatnya saat anak mengalami kejang untuk mencegah kerusakan pada otak. Lakukan juga pemeriksaan lebih lanjut jika anak kejang terlalu lama dan tidak dapat berinteraksi dengan baik. Berbagai hal penyebab kejang tersebut ditakutkan terjadi karena radang otak atau epilepsi.

Segera Bawa ke Dokter

Meski para orang tua sudah melakukan pertolongan pertama sebaiknya untuk mengetahui kondisi kesehatan anak bawa anak ke dokter sesegera mungkin.

Saat anak terserang kejang demam jangan mencari rumah sakit dengan fasilitas lengkap yang letaknya terlalu jauh, sebaiknya bawa anak ke dokter atau klinik terdekat agar anak tidak terlambat ditangani.

Dengan begitu anak akan mendapatkan pertolongan dari pada tenaga medis. Sebagai pertolongan pertama biasanya dokter akan memberikan obat penurun panas dan anti kejang sekaligus.

Kejang tanpa demam 

Sebagai orang tua yang memiliki balita di bawah 5 tahun saat terserang kejang demam tak perlu khawatir efek buruk yang bisa terjadi. Asalkan kejang tidak terulang lagi dan tidak berlangsung lama yang dapat merusak sel-sel otak, kejang demam terbilang aman.

Kejang bisa terjadi karena beberapa hal salah satunya disebabkan suhu tubuh anak yang terlalu tinggi dalam waktu yang singkat. Namun kejang juga bisa terjadi saat anak tidak demam. kejang yang disebabkan naiknya suhu tubuh disebut kejang demam (convalsio febrilis) demam pada anak bisa disebabkan infeksi saluran pernapasan, radang telinga, infeksi saluran pencernaan, infeksi saluran kencing dan masih banyak penyebab lainnya. Kejang yang terjadi tanpa naiknya suhu tubuh anak disebut kejang tanpa demam.

Bisa Dialami Semua Anak

Kejang demam biasanya menyerang balita di atas 6 bulan sampai 5 tahun sedangkan kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita bahkan ketika bayi baru lahir sekalipun. Saat kejang biasanya akan ditandai badan kaku dan bola mata melotot terbalik ke atas yang biasa disebut kejang toniklonik.

Kejang tanpa demam pada bayi yang baru lahir umumnya terjadi karena bawaan lahir yang mengganggu fungsi otak. Berbagai hal lain juga dapat menyebabkan kejang tanpa demam seperti berikut ini trauma lahir, terjadi infeksi pada saat terakhir lahir, kurangnya oksigen yang masuk ke otak serta menderita hidropalus dan sebaliknya

Saat berat badan bayi tidak normal yang mencapai 4000 gram atau 4 kg akan memiliki resiko cukup tinggi terserang kejang tanpa demam pada saat 28 hari sesudah melahirkan atau masa neonatusnya.

Penyebab kejang karena kelebihan berat badan ini biasa terjadi ketika ibu mengalami penyakit diabetes  yang mengakibatkan anak yang dilahirkan terserang hipoglemik atau gangguan gula dalam darah, yang berakibat kejang tanpa demam.

Bayi yang menderita hipoglemik sangat rentan terkena kejang tanpa demam, bahkan hal kecil juga dapat menyebabkan kejang seperti terlambat diberi minum.

Jangan Sampai Terulang

Saat anak anda terserang kejang demam maupun kejang tanpa demam, satu hal yang sangat penting anda perhatikan adalah jangan sampai kejang terjadi berulang-ulang. Kejang sangat berbahaya jika terjadi berulang-ulang dan terjadi dalam waktu yang lama atau jangan sampai kejang terjadi lebih dari 5 menit.

Saat kejang terjadi, aliran oksigen ke otak akan terhambat dan akan mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak setiap menitnya. Lalu apa yang akan terjadi bila kejang terjadi berkali-kali? Ribuan sel otak akan mengalami kerusakan.

Saat sel-sel otak mengalami kerusakan berbagai penyakit bisa menyerang tubuh anda seperti epilepsi, kelumpuhan, serta retardasi mental. Maka dari itu jika anak pernah mengalami kejang, selalu awasi agar kejang tidak terulang kembali. Itulah beberapa informasi tentang kejang demam dan cara penanganan yang tepat agar kejang yang dialami anak tidak berakibat buruk bagi kesehatan otak dan tubuh. Semoga bermanfaat. Simak juga: Demam Tifoid: Penyebab, Gejala, Pengobatan dan Pencegahan

Leave a Reply